Banyak Pendapat Mengenai Kemunculan Cacing di Solo, ini Pendapat Ahli PPLH

Pada hari Sabtu tanggal 18 April 2020 Warga Solo/Surakarta khusunya Pasar Gede dengan fenomena munculnya cacing. Peristiwa ini menjadi berita yang ramai diberbincangkan diberbagai media karena munculnya banyak cacing dengan ukuran juga besar.

Berangkat dari banyaknya argumen yang muncul di berbagai media, kami para Peneliti Pusat Penelitian Lingkungan Hidup – LPPM Universitas Sebelas Maret Surakarta menyampaikan beberapa hal terkait tersebut berdasarkan literatur dari berbagai kajian ilmu.

Menurut peneliti dibidang Biologi Hewan menjelaskan ada beberapa alasan mengapa cacing pergi ke permukaan yaitu cacing yang keluar dari dalam tanah karena habitat mereka terganggu. Sehingga cacing tersebut migrasi mencari tempat hidup yang lembab dan nyaman, dan menghindari predator seperti tikus yang berada didalam tanah. Kedua hal diatas logis karena di Pasar Gede pada akhir-akhir ini telah membuat kurang nyaman bagi hewan ini yaitu penggunaan disinfektan yang banyak karena untuk mencegah persebaran virus covid-19. Diketahui zat yang ada dicairan ini seperti halnya clorin yang dapat membunuh mikroorganisme tanah dan bakteri, yang kedua hal tersebut merupakan makanan bagi cacing, dan zat lainnya. Tentunya ini membuat tidak nyaman cacing didalam tanah. Faktor kedua yaitu menghindari predator juga berpotensi benar, karena tikus yang umumnya mencari makanan di selokan pasar. Namun selokan menjadi saluran disinfektan yang mengalir dari benda diatasnya. Sehingga tikus mencari makan didalam tanah.

Selain dari peneliti bidang Biologi Hewan, Pakar Geografi Terapan yaitu Setya Nugraha menyatakan beberapa pendapat diantaranya yaitu Prinsipnya untuk semua makhluk hidup tak kala habitatnya terganggu maka akan melakukan 3 tindakan, salah satu melakukan migrasi/pergerakan/perpindahan. Daya lenting untuk setiap makhluk hidup itu berlainan. Hal ini sama dengan pendapat Nugraha Andi tentang makhluk hidup mengenai migrasi.

Jika peristiwa ini dikaitkan dengan aktifitas vulkanik, yaitu berupa perubahan kenaikan suhu pada lapisan tanah atau batuan karena tenaga endogen maka yang tidak akan ada di Pasar Gede. Mengapa demikian? salah satu tanda aktivitas vulkanik/gunungapi mau meletus maka ada pergerakan magma ke atas lebih mendekati kepundan atau mulut gunungapi, sehingga dengan naiknya magma tersebut maka suhu permukaan bumi menjadi lebih panas, dan pengaruh ini hanya berada pada wilayah gunungapi. Hal ini pernah terjadi di sekitaran Gunungapi Merapi hanya sampai radius 5 km.

Memnahas mengenaik kenaikan suhu. Ada juga peningkatan suhu pada permukaan bumi akibat pergerakan lempeng tektonik yang mengalami tegangan tinggi (stressing). Ini dapat dirasakan pada wilayah dekat jalur gempa termasuk pada zone patahan. Nah Solo khusunya Pasar Gede jauh dari jalur gempa dan zone patahan. Seandainya itu karena tegangan jalur patahan maka tidak hanya Pasar Gedhe tetapi wilayah lain secara sporadis akan muncul migrasi hewan tersebut.

Fenomena yang ke selanjutnya tatkala itu jalur lipatan (antiklinarium) seperti zone tengah Jawa Tengah – Gresik Jawa Timur. Itu juga menyimpan energi panas yang berasal dari gas methan. Tak kala terjadi tekaban yang tinggi maka suhu permukaan bumi meningkat, tetapi hanya pada zona-zona antikli. Nah Solo khususnya Pasar Gede formasi batuannya lain berasal dr proses sedimentasi pada daerah litoral (pinggiran laut dangkal) sehingga untuk kasus seperti di zone tengah tadi dalam sejarah geologi belum pernah ada.

Kesimpulannya dari penjelasan diatas: gunungapi, jalur patahan dan jalur lipatan maka sangat kecil keluarnya cacing di Pasar Gede karena peningkatan suhu pada lapisan kerak bumi.

Demikian penjelasan dari Peneliti yang ada di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret. Mari Kita berdoa semoga wabah Covid-19 segera berakhir dan segala aktifitas dapat berjalan normal kembali, dan tentunya Lingkungan Hidup tetap terjaga dengan baik.